Jokowi, Memimpin Dengan Hati

June 5, 2013
By

 


Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi)

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi)

Feature Indonesia – TUBUHNYA tinggi, kurus dan langsing. Dengan tinggi 175 cm, berat badannya saat ini hanya 53 kilogram. Kesannya, begitu ringkih. Tetapi, dia seorang yang kuat, sangat kuat. Kuat dalam semangat dan tekad. Untuk apa? Mengabdi pada rakyat! Itulah Joko Widodo yang populer dengan panggilan Jokowi.

Sosok Jokowi mengingatkan kita pada pahlawan besar pejuang kemerdekaan: Jenderal Soedirman. Meski fisiknya lemah, semangatnya begitu membara. Di atas tandu Jenderal Soedirman memimpin pergerakan para pejuang Indonesia melawan pasukan penjajah. Sedangkan Jokowi, sebagai generasi pasca kemerdekaan, berjuang mewujudkan cita-cita kemerdekaan yaitu kesejahteraan bagi rakyat. Kiprahnya sejauh ini masih pada tingkat lokal yakni di kota Solo dalam kapasitasnya sebagai Walikota Solo 2005-2010 dan 2010-Oktober 2012 dan kini di DKI Jakarta dengan perannya sebagai Gubernur DKI Jakarta 2012-2017. Namun di masa mendatang ia berpotensi menjadi seorang pemimpin di tingkat nasional.

Membandingkan sosok Jokowi dengan Jenderal Soedirman mungkin tidak sepenuhnya tepat. Tetapi, setidaknya kita melihat bahwa dalam semangat untuk mengabdi pada rakyat keduanya mempunyai kemiripan. Yakni niat yang tulus tanpa pamrih.

Tekun Belajar dan Kerja Keras

Lahir di Solo, Jawa Tengah, 21 Juni 1961, Jokowi terbiasa bekerja keras dan mandiri sejak belia. Ia pernah menjadi pengojek payung, pedagang kecil-kecilan, bahkan kuli panggul untuk mendapatkan uang jajan dan membeli keperluan sekolah. Kebiasaan bekerja keras itu tak lepas dari didikan kedua orang tuanya, Notomihardjo dan Sudjiatmi.

Menurut sang Ibu, Jokowi termasuk anak yang tekun belajar. “Tak perlu dijewer agar mau belajar,” ungkap Sudjatmi mengisahkan masa kecil anak lelakinya itu.

Bukan hanya dalam pendidikan di sekolah Jokowi tekun belajar, tapi juga dalam hal-hal lain dalam kehidupan sehari-hari. Ayah Jokowi, seorang pengusaha kecil, pembuat mebel. Jokowipun belajar menjadi pembuat mebel. Pada usia duabelas tahun ia sudah terampil menggergaji kayu. Buah ketekunan belajar dan kerja kerasnya terbukti di kemudian hari.

Setelah menggondol gelar sarjana dari Fakultas Kehutanan UGM Jogjakarta, Jokowi sempat bekerja di sebuah BUMN, namun tak lama kemudian keluar. Dengan modal dari hasil menjaminkan satu-satunya rumah miliknya, sebuah rumah mungil, Jokowi mengikuti jejak ayahnya merintis usaha di bidang mebel. Karena kegigihannya ia berhasil membangun dua perusahaan besar yang memproduksi dan mengeskpor mebel, PT Rakabu dan Rakabu Sejahtera di kota kelahirannya Solo.

Menjadi Walikota Solo

Sukses sebagai pengusaha, Jokowi masuk arena politik dengan menjadi kader PDI Perjuangan. Niatnya bukan untuk mencari materi melalui tangan kekuasaan – motif yang kini banyak disandang para pejabat dan pemegang kekuasaan sebagaimana tampak dari merebaknya kasus korupsi di tanah air. Jokowi ingin berbuat sesuatu untuk masyarakat yang lebih luas. Jalan politik dinilai lebih efektif guna mewujudkan niat baiknya itu.

Rupanya, suara hatinya didengar Yang Di Atas. Ketika kesempatan mencalon menjadi walikota Solo disodorkan padanya, Jokowi menyambutnya. Berpasangan dengan tokoh kawakan PDI Perjuangan FX Hadi Rudyatmo, Jokowi berhasil memenangkan pilihan rakyat Solo.

Selama tujuh tahun masa kepemimpinannya, Jokowi mampu membawa banyak perubahan terhadap kota Solo. Dengan semboyan  “Solo: The Spirit of Java” Jokowi mendaftarkan kota kelahirannya itu sebagai anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkah membangun citra kota Solo di dunia internasional berlanjut dengan penyelenggaraan sejumlah acara berskala dunia di Solo. Antara lain Konferensi Organisasi Kota-kota Warisan Dunia pada tahun 2008, Festival Musik Dunia pada tahun 2007 dan 2008.

Dengan pendekatannya yang merakyat, Jokowi berhasil memindahkan para pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Taman Banjarsari tanpa keributan. Bahkan hari pemindahan para pedagang barang bekas ke lokasi baru dilakukan dengan arak-arakan meriah. Lokasi bekas PKL tersebut kemudian dijadikan lahan hijau. Kawasan lain, yaitu Taman Balekambang yang lama tidak terurus dibangun kembali dan dijadikan taman yang elok. Jokowi terinsipirasi kota-kota di Eropa yang tampak bersih, nyaman dan menarik. Ia ingin menjadikan Solo sebagai kota yang manusiawi.

Dalam birokrasi pemerintahannya Jokowi melakukan banyak perombakan yang intinya merubah mindset aparat pemerintah yang selama ini biasa “dilayani” menjadi “melayani” rakyat. Dengan berbagai perubahan tersebut pelayanan publik seperti pengurusan ijin-ijin, pembuatan KTP dan sebagainya, menjadi lebih baik: cepat, murah dan nyaman.

Bersama wakilnya Rudyatmo, Jokowi bekerja keras melayani masyarakat. Buahnya, setelah usai menjalani periode pertama 2005-2010 pasangan ini kembali terpilih untuk memimpin Solo untuk periode 2010-1015. “Pada pemilihan periode ke-dua, kami nyaris tanpa kampanye, tapi rakyat memilih kami kembali,” ujar Rudyatmo. Namun belum genap dua tahun menjalani periode ke dua kepemimpinannya di Solo, Jokowi dicalonkan menjadi Gubernur DKI Jakarta dan ternyata menang.

Gubernur DKI Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Jokowi

Gubernur DKI Jakarta Jokowi di tengah warga.

Dalam Pilkada DKI Jakarta Jokowi yang diusung PDI Perjuangan berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama atau yang dikenal dengan panggilan Ahok. Basuki adalah mantan Bupati Belitung Timur yang juga mempunyai catatan prestasi mengesankan. Basuki diusung oleh Gerindra. Pasangan ini mampu mengungguli pasangan petahana (incumbent) Fauzi Bowo (Foke) dan Nachrowi Ramli (Nara) di kedua putaran.

Pada putaran pertama pasangan Jokowi-Ahok berada di posis teratas dalam perolehan suara yakni sekitar 43 persen, disusul Foke-Nara dengan perolehan suara 34 persen, dan berturut-turut pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rahbini, Faisal Basri-Biem Benyamin, Alex Noerdin-Nono Sampono, dan Hendarji Soepanji-Riza Patria.

Pada putaran kedua hanya dua pasangan terunggul yang berkompetisi yaitu Jokowi-Ahok dan Foke-Nara. Pada putaran ke dua ini partai-partai pendukung kandidat lainnya menyatakan mendukung Foke-Nara. Sehingga pasangan Jokowi-Ahok yang didukung hanya dua partai PDIP dan Gerindra harus menghadapi koalisi besar partai Demokrat, PAN, Golkar, PPP, PKB dan sejumlah partai kecil.

Menghadapi keroyokan partai-partai besar waktu itu, Jokowi menyatakan dirinya memilih berkoalisi dengan rakyat. Ternyata, “koalisi dengan rakyat” terbukti lebih kuat dan membawa Jokowi-Ahok pada kemenangan dengan perolehan suara 54 persen, sedangkan Foke-Nara 46 persen.

Jejak Prestasi

Kebanyakan analis menilai, kemenangan Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta lebih karena jejak prestasi Jokowi selama menjadi walikota Surakarta dengan model kepemimpinannya yang merakyat yang mendapat ekspose media massa secara luas. Beberapa bulan sebelum Pilkada DKI Jakarta, nama Jokowi menghiasai media massa nasional karena keberpihakannya pada karya anak negeri.

Saat itu Jokowi menyatakan niatnya mengganti mobil dinasnya dengan mobil buatan para siswa SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) di Solo, meski mobil tersebut belum lulus uji kelayakan. Jokowi menjajal sendiri mobil tersebut dari Solo ke Jakarta untuk diuji kelayakannya.

Tindakan Jokowi menggugah kesadaran masyarakat akan potensi anak-anak bangsa yang cukup besar namun selama ini tidak mendapat perhatian dalam kebijakan pemerintah. Aksi provokatif Jokowi dengan mengendarai Mobil SMK dari Solo ke Jakarta telah menumbuhkan simpati besar masyarakat padanya. Ekspose media bukan hanya pada peristiwa itu, namun juga pada jejak prestasi Jokowi selama ini.

Prestasi Jokowi sebagai walikota Surakarta diakui banyak pihak. Sejumlah penghargaan pun diterimanya. Antara lain oleh majalah Tempo Jokowi dipiluh sebagai salah satu dari “10 Tokoh tahun 2008”.  Sebelumnya, pasangan dalam Pilkada DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama juga diterpilih oleh majalah yang sama sebagai satu dari “10 Tokoh 2006” atas prestasinya dalam memperbaiki layanan kesehatan dan pendidikan di Belitung Timur.

Oleh pemerintah pusat Jokowi memperoleh penghargaan Bintang Jasa Utama atas prestasinya sebagai kepala daerah yang mengabdikan diri pada rakyat. Suami Iriana ini juga terpilih sebagai salah satu dari sepuluh  Walikota Terbaik Dunia.

Memimpin Dengan Hati

Kemenangan Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta bisa dikatakan sebagai kemenangan hati nurani rakyat. Sosok Jokowi menjawab kerinduan rakyat akan seorang pemimpin yang benar-benar mempedulikan kepentingan rakyat. Banyak yang menilai Jokowi sebagai pemimpin yang jujur, tegas, dan bertanggung jawab mengemban tugas melayani masyarakat.

Selama menjadi Walikota Solo, Jokowi suka “blusukan” ke kampung-kampung menemui warga masyarakat guna mendapatkan informasi langsung dari warga tentang masalah yang mereka hadapi. Hobinya itu pun diteruskan ketika dia menjadi Gubernur DKI Jakarta.  Hasil blusukan itulah yang menjadi dasar dia bekerja, menetapkan suatu kebijakan, sehingga sesuai dengan kondisi di lapangan. Ia juga menerapkan manajemen kontrol yang ketat terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah dia putuskan sehingga pelaksanaannya benar-benar sesuai yang ditargetkan.

Di tengah kegelisahan luar biasa melihat tingkah banyak pejabat korupsi dan hidup bermewah-mewah, Jokowi yang jujur, rendah hati dan sederhana menawarkan harapan besar bagi masyarakat.

Dalam buku “Jokowi, Spirit Bantaran Kali Anyar“, Jokowi mengungkapkan konsepnya tentang kepemimpinan. “Memimpin itu harus dengan hati. Pertama-tama memangku warga, memanusiakan, memperlakukan mereka sebagai manusia, bukan  sebagai sampah,” tuturnya. (Winarto, dari berbagai sumber)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *