Lukisan Mimpi Morales dan Universalisme Tamayo

May 2, 2013
By

Pameran “Visual Anthology of Mexico”

Oleh Winarto


"Beyond the Silence" lukisan karya Rodolfo Morales

“Beyond the Silence” lukisan karya Rodolfo Morales

Memasuki ruang pameran di Gedung A, Galeri Nasional, Jakarta, mata kita langsung tertumbuk sebidang lukisan dengan warna mencolok dan ukuran relatif besar. Lukisan berjudul “Beyond the Silence” berukuran 140×175 cm, karya artis legendaris Mexico, Rodolfo Morales, menggambarkan sesosok tubuh telanjang, terbaring tenang di atas rerumputan hijau dengan bunga-bunga merah menyala.

Warna merah ribuan bunga itu juga membentuk bayangan wajah dan dua tangan yang merengkuh jasad yang diam itu. Sementara dua sosok perempuan layaknya malaikat dengan tubuh melayang menatap jasad membeku itu. Di latar belakang terlihat bangunan mirip benteng dengan bendera Mexico yang tengah berkibar.

Menatap lukisan ini kita seperti dibawa ke dalam alam mimpi.

Lukisan Rodolfo Morales itu adalah satu dari sekitar 60 karya para pelukis besar Mexico, yang dipajang dalam pameran bertajuk “Visual Anthology of Mexico” di Galeri Nasional, Jakarta, tanggal 9-30 April 2013.

Rodolfo Morales (May 8, 1925-January 30, 2001) dikenal dengan lukisan-lukisan surealismenya. Karya-karyanya yang banyak mengambil tema dari cerita-cerita rakyat dan mitologi menghadirkan gambaran mirip mimpi. Morales karenanya juga dianggap sebagai salah satu perintis aliran realis magis yang berkembang pada tahun 1940an.

Ia sering melukis penduduk asli pedesaan dengan bangunan-bangunan kuno seperti gereja, istana dan gedung-gedung tua di alun-alun kota. Bersama-sama Rufino Tamayo ia merestorasi gedung-gedung bersejarah di beberapa wilayah Meksiko.

               Rufino Tamayo

"Iron Cross", lukisan karya Rufino Tamayo

“Iron Cross”, lukisan karya Rufino Tamayo

Sedangkan Rufino Tamayo, yang karyanya juga dihadirkan dalam pameran di sini, adalah seorang pelukis mural. Jauh sebelum Rodolfo Morales memulai karirnya, Tamayo sudah mengharu biru dunia seni lukis di Meksiko. Lahir pada tahun 1899, sempat beberapa tahun tinggal di AS, Tamayo dikenal dengan lukisan-lukisannya yang bercorak figuratif dengan pengaruh aliran-aliran seni lukis modern seperti kubisme, surealisme dan ekspresionisme. Namun tema-tema yang ditampilkan banyak yang didasarkan pada elemen tradisi Meksiko.

Karya-karya Tamayo dikenal dengan warna-warnanya tunggal (single colors) dan warna-warna dasar (pure colors) yang diyakininya mampu menghadirkan makna lebih kuat.

Dalam pameran ini, karya Tamayo yang dihadirkan berjudul  “Iron Cross” yang melukiskan seorang atlet senam berpose tegak, kedua tangannya merentang ke samping menggenggam peralatan senam. Lukisan ini aslinya dibuat untuk menyambut Olimpiade di Seoul, Korea Selatan, tahun 1988. Namun posisi sang atlet yang begitu kokoh mengingatkan kita pada posisi Kristus ketika disalib.

Lukisan-lukisan Tamayo menghadirkan nilai-nilai universal dan mencerahkan. Ia berbeda dari beberapa seniman besar seangkatannya, Jose Clemento Orozco dan Diego Rivera yang menggunakan seni untuk menghadirkan pesan-pesan politik, Tamayo memilih jalan damai. Konflik ideologis antara Tamayo dengan para muralis Orizco dan Rivera memuncak pada masa Revolusi Meksiko tahun 1910. Tamayo menolak ide para muralis yang menyatakan masa depan Meksiko ditentukan oleh Revolusi. Tamayo meyakini bahwa sejak rakyat Meksiko memulai revolusi mereka telah menyakiti diri mereka sendiri. Karena pendiriannya itu, Tamayo sempat hengkang keluar Meksiko selama beberapa tahun.

Tamayo meninggal pada tahun 1991 dan mewariskan dua museum besar,  Tamayo Contemporary Art Museum di Mexico City dan  Museo Rufino Tamayo di Oaxaca.

Mengenal Budaya Meksiko

"I am not Here" lukisan karya Gustavo Adolvo Monroy

“I am not Here” lukisan karya Gustavo Adolvo Monroy

Artis lain yang karyanya dipajang di sini yaitu Diego Rievera, Angelina Beloff, Benjamin Dominguez, Gustavo Adolvo Monroy, Nahum B Zenil, Damian Flores, Sabastian, Betsabee Romero, dan Cecilia Domenge.  Para seniman ini merupakan maestro seni lukis Meksiko dari berbagai aliran dan angkatan.

Lukisan cukup menarik antara lain karya Angelina Beloff, “Santa Maria Park” yang menyiratkan pengaruh impresionisme dan ekspresionisme Matisse, Cezanne dan Picasso. Angelina yang asal Rusia, sempat menjadi isteri Diego Rivera, namun kemudian dicerai. Rivera kemudian menggaet sesama seniman lukis, Frida Kahlo.

Lukisan lainnya, “I am Not Here” karya Gustavo Adolvo Monroy, menggambarkan seorang perempuan memeluk seorang lelaki yang tergeletak di pangkuannya di dalam sebauh gedung tua. Di bagian atas bangunan terlihat bayang sesosok tubuh, di sisinya tertulis “No Estoy Aqui” (Saya Tidak Di Sini). Lukisan ini mengingatkan kita akan sosok Kristus yang meninggal dalam pelukan ibunya, Maria.

Pameran “Visual Anthology of Mexico” ini diselenggarakan memperingati 60 tahun hubungan bilateral Indonesia-Meksiko. Pameran ini bagi masyarakat Indonesia cukup menarik untuk mengenal lebih jauh kebudayaan Meksiko. Ternyata, Meksiko bukan hanya berisi telenovela, yang banyak digemari para pemirsa TV di Indonesia.

Tulisan Menarik Lain:

Kedamaian Bali dalam Lukisan Huang Fong

Seni Kontemporer China

Pameran Lukian Aris Budiono: Seni Melawan Korupsi

Kembali ke Beranda

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *