Pameran Lukisan Ahmad Sadali

July 9, 2014

Gunungan dan Lukisan-lukisan Tanpa Judul 

Oleh Winarto

"Gunungan", lukisan karya Ahmad Sadali, 1987

“Gunungan”, lukisan karya Ahmad Sadali, 1987

Menatap lukisan-lukisan Ahmad Sadali kita akan tersedot dalam suasana hening dan meditatif. Warna-warga gelap yang terpapar di kanvas tidak berkesan muram dan asing, melainkan justru membangkitkan rasa tenteram dan akrab. Lihat misalnya, lukisannya “Gunungan” (1987) yang menggambarkan kepingan-kepingan bentuk geometris membangun rupa gunung. Sebenarnya tidak persis seperti gunung, tetapi lebih mirip layar sebuah perahu, dengan bagian bawah lebar dan semakin ke atas semakin kecil mengerucut. Pada bagian puncak gunung terlihat bentuk-bentuk yang menyerupai deretan huruf-huruf Arab. Warna coklat tua gelap mendominasi bidang gambar, baik latar belakang maupun obyek gambar, semakin ke atas semakin terang. Pada bagian puncak terdapat warna-warna putih dan  emas. Menyusuri “Gunungan” dari bagian dasar hingga puncak kita merasa terangkat menuju pusat cahaya yang tenang.

Lukisan Sadali lainnya, “Gunungan Dasar Warna Biru” (1973) membuat kesan ketenangan lebih dalam. Dengan latar belakang biru tua terlihat beberapa obyek geometris berupa dua segitiga besar yang dijajar sehingga menyerupai gunung atau piramida. Kedua bentuk segitiga berwarna coklat bersemburat putih dan serpihan merah. Di atas gunungan terdapat beberapa obyek bulat lonjong. Sebuah bidang persegi panjang mendatar dengan warna hitam gelap memotong di bagian tengah bidang yang melatari obyek gunungan dan menghadirkan misteri.

Kedua karya tersebut adalah sebagian dari 68 lukisan karya Ahmad Sadali yang dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia (GNI) Jakarta pada 25 Juni hingga 15 Juli 2014. Pameran diselenggarakan dengan kurator Rizki A Zaelani, Asikin Hasan, dan Rikrik Kumara.

Bapak Senirupa Abstrak Indonesia

Lahir di Garut, Jawa Barat, pada bulan Juli 1924, Ahmad Sadali dikenal sebagai Bapak Senirupa Abstrak Indonesia. Pada awal-awal karirnya Sadali sempat mengikuti jejak gurunya, Ries Mulder, mengembangkan karya-karya kubisme. Ries Mulder adalah pelukis dan akademisi asal Belanda yang turut membangun Jurusan Senirupa di Institut Teknologi Bandung (ITB). Sadali yang juga sebagai pengajar di almamaternya, ITB, dan mencapai pangkat profesor senirupa, meninggal pada tahun 1987.

Pergaulannya dengan banyak seniman, terutama setelah melanjutkan studi di Amerika Serikat mendorongnya mengeksplorasi kecenderungan lain dalam seni rupa seperti abstrak dan ekspresionis. Latar belakang keluarga dan pendidikan agama Islam di madrasah mempengaruhi pula pilihan-pilihannya dalam berkarya sehingga berdimensi religius. Sebagian karya-karyanya yang dipajang dalam pameran kali ini pun bermatra religius. Dalam penggambaran religiusitasnya Sadali suka mengambil bentuk-bentuk geometris menyerupai gunung dan kaligrafi. Pada pameran kali ini sejumlah karyanya yang menggambarkan gunung antara lain “Gunungan” (1987), “Gunungan Dasar Warna Biru” (1973), “Gunung Mas” (1980), “Gunungan 3D Dengan Dasar Ultramarine” (1980). Dua karya bertahun 1980 ini merupakan lukisan tiga dimensi di atas kanvas. Selain itu ada beberapa karya kaligrafi yang dipajang di sini.

Pemanfaatan bentuk-bentuk geometris abstrak merupakan salah satu ciri khas karya-karya Sadali. Melalui bentuk-bentuk geometris seperti segitiga, jajaran genjang, persegi, juga bulatan-bulatan dengan warna-warna gelap dan terang emas Sadali mampu mencipta suasana kontras dalam karya-karyanya. Suasana kontras ini bisa kita baca sebagai penggambaran antara dunia fana dan ilahiah yang pada titik tertentu bertemu sebagai puncak spiritualitas

Tanpa Judul

Hal lain yang menarik dari karya-karya Sadali adalah ketiadaan judul. Dalam pameran ini ada belasan lukisannya yang tidak berjudul. Mereka hanyalah sebagian kecil dari puluhan lukisannya yang tidak diberi judul. Seorang penulis, baik penulis fiksi maupun non-fiksi, memberi judul tulisannya untuk menunjukkan tema ataupun inti gagasannya yang dituangkan dalam tulisan. Demikian pula seorang seniman lukis, komponis, ataupun koreografer biasa memberi nama hasil karyanya untuk mengkerangkai makna karyanya. Namun, Sadali agaknya tidak ingin memperangkap para penikmat karyanya dengan kerangka makna tertentu yang melekat pada judul karya tersebut.  Tanpa memberikan judul Sadali membebaskan para pengamat dan penikmat membangun kerangka makna dan interpretasi sendiri terhadap karya-karyanya. Ia melepaskan keakuannya, ego, atau subjektivitasnya sebagai pencipta dari hasil karyanya dan membiarkan karyanya sebagai teks yang berbicara sendiri pada para penikmatnya.

Tanpa Judul 41, lukisan karya Ahmad Sadali

Tanpa Judul 41, lukisan karya Ahmad Sadali

Sebagai sebuah teks yang otonom, lepas dari subjek penciptanya, lukisan-lukisan tanpa judul Sadali membuka ruang dialog dan interpretasi pada diri setiap penikmatnya. Terserah, orang akan menafsirkannya seperti apa atau sebagai apa. Lihat misalnya karyanya “Tanpa Judul 1” yang menggambarkan objek sebuah kursi rotan di bagian kiri bidang gambar dan aneka bentuk geometris seperti segitiga, persegi, dan garis-garis lengkung yang membangun imaji tentang kapal layar, bangunan rumah dan serakan kain dalam sebuah ruangan. Sedangkan “Tanpa Judul 37” menggambarkan garis-garis horisontal dan vertikal mirip tekstur kayu.

Lirisme

Pameran ini juga didukung para perupa yang karya-karyanya sebagai bentuk penafsiran, atau tepatnya penghargaan, terhadap peran dan pengaruh karya-karya serta pemikiran Ahmad Sadali. Mereka yang karyanya ikut dipajang di sini yaitu Bambang Ernawan, Dadang MA, Putut W Widodo, Irman A Rahman, Oco Santoso, S Handono Hadi, Mierza Said, Dwi Setya, Handiwirman Saputra, Dikdik Sayahdikumullah, Agung Fitriana, dan Tandya RS.

Dalam catatan kuratorialnya Rizki A Zaelani dan kawan-kawan mengungkapkan dua pokok utama yang diwariskan Ahmad Sadali yakni menyangkut persoalan  abstraksi dan  tendensi artistik. Perkembangan karya-karya Sadali menunjukan beberapa prinsip berkarya yang hingga kini dikenal sebagai proses abstraksi. Proses ini meliputi tiga jejak-jejak visual yang khas meliputi penampakan jejak dan efek visual sapuan cat yang bersifat ekspresif,   proses penyederhanaan bentuk yang secara visual bisa dikenali sebagai suatu pola perencanaan struktur bidang dan bentuk,  serta permainan warna dan bidang warna yang cenderung menghasilkan efek kedalaman ruang-warna. Efek permainan bidang-bidang warna inilah yang oleh Sanento Yuliman disebut sebagai lirisisme.

Menurut Sanento Yuliman, lirisisme “merupakan ungkapan emosi dan perasaan pelukis dalam mengalami dunia. Sebuah lukisan menjadi bidang ekspresi, tempat seorang pelukis seakan-akan ‘memproyeksikan’ emosi dan getaran perasaannya, merekam kehidupan jiwanya.

Emosi, getaran peraaaan dan rekaman kehidupan jiwa Sadali itulah yang kita tangkap dalam pameran kali ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *