Pameran Lukisan Aris Budiono

March 23, 2013
By

Pertempuran Hidup Mati Melawan Korupsi

Oleh Winarto



Hanoman Punishment

“Hanoman Punishment”, 2011, lukisan Aris Budiono.

ARIS Budiono Sadjad  benar-benar murka. Pelukis kelahiran Brebes, Jawa Tengah, 1960 ini marah luar biasa menyaksikan membuncahnya kasus-kasus korupsi di tanah air. Perilaku korup di negeri  ini sudah mirip sel kanker yang merayapi hampir seluruh bagian tubuh bangsa ini. Karena itu perlawanan terhadap korupsi haruslah total untuk bisa mengangkat hingga akar sel-sel yang mematikan itu. Perang melawan korupsi tak lain dari tindakan jihad: sebuah perang suci!

Pemikiran seperti itulah yang tampaknya mendasari perupa lulusan Sekolah Tinggi Senirupa Jogjakarta ini yang  menggelar pameran tunggalnya dengan judul “Perang Suci Melawan Korupsi”.  Pameran berlangsung  di Bentara Budaya Jakarta tanggal 14-23 Maret 2013.

Sekitar duapuluh buah lukisannya menunjukkan amarah Aris yang meluap-luap terhadap korupsi. Ia menggambarkan para koruptor dengan metafor berupa babi yang kita kenal sebagai binatang rakus dan kotor.

Babi Versus Ksatria

"Hanoman Storm Fury", 2011, lukisan Aris Budiono

“Hanoman Storm Fury”, 2011, lukisan Aris Budiono

Ia menggambarkan babi dalam wujudnya yang utuh sebagai binatang maupun dalam sosok-sosok bertubuh manusia dengan kepala babi. Ia juga mengambil  tokoh-tokoh dari dunia pewayangan untuk melakukan aksi perang suci melawan korupsi. Jadinya, sangat menarik: para ksatria dunia pewayangan seperti Bima dan Hanoman bertempur melawan sosok-sosok tambun berwujud babi atau manusia berwajah babi.

Lukisannya yang berjudul “Hanoman  Storm Fury” misalnya, menggambarkan bagaimana ksatria berwujud seekor kera putih itu menghajar beberapa ekor babi dengan pukulan halilintarnya yang maha dahsyat. Terasa sekali, betapa sang pelukis ingin menunjukkan kegeraman tak tertahan terhadap para koruptor. Sedangkan lukisannya “Hanoman Samurai” menggambarkan Hanoman mencabik perut seekor babi dengan sebilah samurai.

Hanoman yang dalam pewayangan merupakan pahlawan besar yang mampu mengalahkan raksasa berkepala sepuluh (Dasamuka) dalam lukisan-lukisan Aris benar-benar didudukkan sebagai sang eksekutor terhadap perilaku korup. Lukisannya yang lain berjudul “Hanoman Punishment menunjukkan sosok Hanoman memegang senjata laras panjang siap mengeksekusi sosok-sosok berwajah raksasa simbol angkara murka.

Selain Hanoman, Aris menampilkan kstaria Pandawa yaitu Bima yang juga dilukiskan sebagai sang esksekutor. Dalam karyanya “Bima Banting” digambarkan Bima membanting seekor babi. Dari mulut babi yang terjungkal keluar berbagai barang yang sebelumnya ditelannya seperti mobil, motor,  kapal dan property. Nafsu serakah dan rakus sang babi yang menelan apa saja juga dia gambarkan dalam karyanya “Omnivora”.

"Punakawan Menggotong Celeng", 2011, Lukisan Aris Budiono

“Punakawan Menggotong Celeng”, 2011, Lukisan Aris Budiono

Aris benar-benar sedang mengamuk. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa amarahnya terhadap korupsi. Namun sikap amuknya itu sekaligus juga menunjukkan kegelisahan dan sedikit putus asa. Hal itu tergambar antara lain dalam karyanya “Super Sakti” yang melukiskan sosok manusia bertampang babi duduk sambil berkacak pinggang mengendari seekor babi. Ia tanpa rasa takut menghadapi serbuan anak panah dari para ksatria. Lukisan ini mengingatkan kita pada sejumlah kasus korupsi besar yang tidak pernah berhasil diungkap tuntas oleh lembaga-lembaga penegak hukum termasuk KPK.

Beberapa lukisan lainnya bernada satir. Lihat misalnya  karyanya  “Empat Cakil Rakyat” yang memperlihatkan empat sosok berwajah raksasa yang dalam pewayangan disebut “Buto Cakil” mengendarai empat ekor babi. Di latar belakang tampak bangunan gedung-gedung tinggi. Judul lukisan ini yang menggunakan kata “Cakil Rakyat” mendorong kita mengingat kata yang mirip yaitu “Wakil Rakyat”. Agaknya Aris Budiono memang sengaja ingin menyindir para wakil rakyat yang sebagian anggotanya berperilaku seperti “Buto Cakil” yang haus kekuasaan dan harta.

Seni sebagai kritik sosial

Sebagai media hiburan, seni sekaligus juga bisa menjadi sarana kritik sosial, bahkan medan perjuangan melawan  kekuasaaan yang menindas atau korup. Sejarah seni di tanah air menunjukkan keterlibatan intens para seniman di berbagai bidang dalam perjuangan melawan politik korup. Di bidang sastra kita memiliki Rendra yang dengan puisi-puisinya serta pentas teaternya sempat membuat keder rezim otoritarian Orde Baru. Juga kita kenal beberapa kelompok teater lain seperti Gandrik, Gapit dan Koma yang tanpa lelah mengusung tema-tema perlawanan terhadap kekuasaan. Di bidang musik kita dapati sosok Iwan Fals dengan lirik-lirik lagunya yang sarat kritik sosial.

Seni lukis pun potensial untuk menjadi medium kritik sosial dan politik. Peran inilah yang secara sadar dilakoni oleh Aris Budiono.

Tindakan korupsi yang kini merajalela di tanah air sudah mengancam eksistensi bangsa, mempengaruhi hidup matinya negeri ini. Perlawanan terhadap korupsi karenanya juga merupakan perlawanan hidup atau mati. Perlawanan yang perlu melibatkan banyak pihak melalui berbagai sarana dan media, tak terkecuali media seni termasuk seni lukis.

Tulisan Menarik Lain

Kedamaian Bali dalam Lukisan Huang Fong

Seni Kontemporer China

Kembali Ke BERANDA

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *